Biru Langit



Pagi jam 10.00 pagi dengan penuh semangat rais mengayuh sepeda menuju tempat dimana ia mengahabiskan 7 tahun masa kecil nya, rais begitu teman-teman akrab memanggil nya.
Dari kejauhan terlihat sardin salah seorang teman karibnya telah kembali dari sekolah dengan wajah yang berbinar-binar, alhamdulillah rais aku lulus ucap sardin, rais tiba-tiba berhenti alhamdulillah ucap rais, ia ikut senang melihat teman nya begitu bahagia.

rais semakin penasaran, berdebar-debar saat itu, bagai mana dengan nasib nya, Kenapa kamu terlambat ucap sardin, aku dari kebun tadi malam tidur di maruang(rumah di kebun/gubuk) dari kemaren menemani ayah jaga kebun ucapnya, tadi pagi juga harus  jaga padi soalnya banyak hama burung, ucap rais dengan wajah begiti penasaran. ayoo buruan yang semangat ucap sardin sambil senyum seraya melanjutkan langkah kaki nya.

Penuh semangat dan harapan rais mengayuh pedal sepeda menuju sdn 27 enam koto utara, sebuah sekolah dasar di desa kecil di kecamatan kinali pasaman barat. Sesampai di sekolah cuma tersisa beberapa teman yg melihat menatap papan pengumuman, Baru saja sampai di depan pintu kantor, rais ucap pak fahmi, pak fahmi adalah kepala sekolah yang baru saja di pindah tugaskan menggantikan pak herison, penuh pertanyaan dalam benak nya seraya  mendekati pak fahmi, dengan pelan pak fahmi berkata kenapa kamu telat? sepertinya tidak terlalu bersemangat untuk melihat hasil kerja keras sendiri?

Dengan agak memelas, pak fahmi berkata ada satu siswa yg berasal dari durian tibarau (nama kampung) yang tidak lolos ujian ucap pak fahmi, sambil meneguk secangkir teh di meja nya, dia sangat sibuk dengan kertas-kertas sepertinya. rais semakin cemas ingin burur-buru rasanya untuk menatap deretan nama yang terpampang di papan pengumuman, dia sangat cemas durian tibarau adalah desa di mana ia berasal, desa yang sangat berarti dan juga sangat ingin ia tinggalkan rais selalu bercita-cita bisa keluar dari sana untuk menemukan pengalaman baru tapi dia hanyalah seorang anak kecil yang belum tau apa-apa dan juga orang tua nya tidak akan mampu membiayai kalau cuma ingin pergi mengahmbur-hamburkan uang atau cuma sekedar jalan-jalan,

kebutulan sekolah itu terletak berbeda desa dengan desanya. dengan buru-buru dia menatap hasil ujian yg terpampang di mading sekolah, alhamdulillah sahutnya dalam hati, tidak sia-sia apa yang aku lakukan dia buru-buru pergi untuk segera pulang, rais gimana?? sahut pak fahmi seraya tersenyum, ayo sini sahut pak fahmi , dengan sedikit lega ia masuk kekantor sambil menandatangani selembar ijazah pertamanya dan juga cap 3 jari pertama kali. dan pak johanes guru matematika nya berkata selamat rais kamu dapat nilai tertinggi, serius pak? sahut rais, alhamdulillah sambil salam dan pamit, kepada guru-guru yang telah mengajarkan banyak hal kepadanya. rais mengayuh dengan semangat agar bisa segera mempersembahkan hasil kerja keras nya di sekolah kepada orang tua nya, ini adalah langkah awal ku untuk berubah ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Keluarga rais hanyalah petani biasa yang hanya lulusan sekolah dasar, dia mempunyai 6 saudara 3 perempuan dan 3 laki, akan tetapi dia hanya tinggal dengan ke 2 saudara laki-lakinya. karena ke 4 saudara nya yang lain sedang melanjutkan studi 2 kakak perempuannya di yogyakarta 1 di madrasah tsnawiyah dan kakak laki-laki satunya dari lulus sd memutuskan untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren, mereka hanya berkumpul saat libur panjang saat itu semuanya terasa lengkap,

Sebagai anak laki-laki yang paling tua yang tinggal di rumah bersama  orang tua nya rais sering pergi membantu orang tua nya di kebun walau terkadang hanya untuk menjaga dan  bermain-main bersama kedua adik nya, masa-masa itu adalah masa yang sangat membahagiakan dimana dia masih sering memancing bersama ayah nya di sungai, menghabiskan waktu untuk orang tua adik-adiknya, walau terkadang ia merasa bosan dengan rutinitas seperti itu.saat itu hutan-hutan masih sangat lebat ikan masih sangat banyak terlihat melintas di perairan, di mana ayah rais  masih terlihat sangat gagah belum ada terlihat keriput di kulit wajah nya, badan nya terlihat kekar karena setiap hari selalu berkeringat untuk mencari nafkah untuk keluarga.

Beberapa minggu setelah kelulusan dengan di temani  kakak laki-laki nya rais mulai mendaftar ke sekolah menengah pertama, waktu itu ia hanya mendaftar di satu sekolah, smpn 3 kinali yang merupakan sekolah yang telah rais pilih, karena bangunnya terlihat sangat bagus ucapnya ketika orang-orang bertanya, kenapa ia sangat yakin dengan itu kenapa nggak ke sekolah lain, smp belum berapa lama di bangun. Untuk urusan sekolah orang tua rais tidak pernah memaksa harus masuk pesantren apa tsaniwiyah atau apapun dia hanya menyarankan beberpa hal dan tentukan sendiri, karena apa yang kamu lakukan sesuai keinginan sendiri itu lebih baik ucap orang tua nya.

Hari itu senin, senin adalah hari yang sangat penting untuk warga di kecamatan  kinali  karena hari senin adalah pasar besar, dimana hari itu hari orang-orang membeli kebutuhan pokok dan juga sangat banyak penjual pembeli, yang biasanya hanya ada beberapa pedagang saja, pasar saat itu mendadak ramai dan bising, terminal yang biasa sepi hari itu selalu penuh dengan angkot dan mobil, jalanan yang dulu bisa di lewati kendaraan hari itu hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. rais di temani kakak nya mendaftar di smpn 3 kinali sekolah yang telah menjadi pilihan nya, setelah melalui berberapa tes wawancara dan juga baca al-quran, ia hanya harus menunggu untuk hasil kelulusan agar bisa melanjutkan sekolah di tempat itu, setelah itu rais memutuskan untuk jalan-jalan di pasar tradisional seorang diri, waktu itu ia masih sangat jarang berkunjung ke pasar tersebut karena jaraknya yang lumayan jauh bahkan dia masih sering nyasar untuk menemukan suatu tempat di sana.

Alhamdulillah ucapnya akhirnya bisa keluar juga dari kampung sambil menatap keramaian semoga ini awal yang baik untuk masa depan ku gumamnya sambil menikmati sebungkus pensi (kerang danau), cemilan kesukaan nya, yang selalu di titipkan ke ibunya jika ibu nya pergi ke pasar. rais yang dahulu sangat ingin ke sana sekrang ia bisa kapan saja untuk menhabiskan harinya,semua hanya butuh waktu ucap nya.rais sangat ingin bebas akan tetapi orang tua nya berkata itu semua ada saat nya kamu harus sabar sekarang belum waktunya, mungkin semunya memang harus bertahap , tidak ada seorang pun yang akan terjadi esok hari pikirnya.

Tidak terasa waktu masuk sekolah akan segera di mulai, tahun ajaran baru telah datang, liburan panjang akan berakhir semua akan berubah sekarang aku bukan anak sekolah dasar lagi pikirnya, rais begitu bergairah dengan tantatangan baru yang dia belum pernah tau bahwa itu akan memberikan hal positif atau malah sebaliknya, rais panggil saudara laki-lakinya, udah selesai ayo pulang, sambil memberikan sepotong semangka , rais sangat menikmati perjalanan pulang ia  merasa ada sesuaatu yang membuat diri nya lebih baik dengan pengalaman-pengalaman kecil yang ia dapat hari itu.

seminggu berlalu, hari itu rais merasa sangat bahagia memakai baju pemberian tetangga, untuk pertama kali dia memakai seragam putih biru bukan merah putih lagi dengan hiasan dasi dan topi yang telah berubah warna rais merasa jauh lebih baik dengan pakai itu di banding merah putih nya, Sesampai di gerbang, teng teng teng! bunyi lonceng terdengar di luar gerbang sekolah dulu sekolah belum menggunakan bel seperti sekarang tapi masih dengan lonceng yang terkadang tidak begitu terdengar ke seluruh sudut sekolahan yang cukup luas.

Hari itu langit sangat biru entah kenapa awan-awan menghilang dari langit, ia menatap langit dengan penuh pengharapan dan rasa syukur, rais berharap banyak pada sekolah yang ia yakin akan merubah hidup nya kelak, dimana kenangan kenangan dan hal baik akan ia torehkan untuk 3 tahun ke depan, rais yakin akan menemukan saudara-saudara baru yang akan menemani hari-harinya yang pasti akan sangat menyenangkan pikirnya, guru-guru baru yang ilmunya luar biasa candaan yang lebih menggairahkan di banding sekolah lamanya.

dengan penuh semangat menghampiri salah satu sahabat nya, sutris, Hey tris sapa rais , iya mak (mamak/ paman dalam bahasa minang), akhirnya kita punya tantangan baru ucap rais. Waktu itu masih masa orientasi siswa (MOS) masa pengenalan serasa sangat cepat berlalu,yang isinya hanya membuat perut kenyang dengan canda dan tawaan,ia akan kenal banyak teman dan saudara baru. akhirnya rais mulai merasakan duduk di meja dan kursi yang baru ruangan yang lebih besar dan teman-yang belum ia kenal, waktu itu beruntung ia sekelas dengan tris, hanya tris yang ia kenal waktu itu.

Sebenernya tidak ada yang begitu istimewa, pikirnya lagi. minggu pertama masih perkenalan guru-guru,wali kelas untuk kelas VII pak parnoto seorang guru IPA, yang akrab di sapa pak par, pak par langsung mengadakan  pemilihan ketua kelas waktu itu ,setelah melakukan perkenalan ,rais di pilih sebagai ketua atas usulan teman-temannya , walau dia tidak ingin untuk itu dia sendiri juga merasa heran padahal ia hanya kenal 1 orang yaitu sutris teman satu kampung nya.

Dua minggu ia  melewati waktu di sekolah baru nya, dia tidak begitu paham dengan beberapa hal terutama pelajaran bahasa inggris karena waktu sekolah dasar ia tidak mendapatkan materi itu ia hampir tidak memiliki kosa kata dan sangat sulit untuk nya mengerti tentang grammar, selasa jam pertama adalah pelajaran bahasa inggris dimana semua siswa di haruskan  membawa kamus, rais telat untuk saat itu buru-buru ia memasuki ruang kelas sambil memberikan selembar surat izin kepada ms mulyani (guru bahasa inggris)  bagi yang belum membawa kamus saya beri waktu 5 menit untuk meminjam ke teman kalian dari kelas lain ucap guru nya.

rais membongkar buku-buku di tasnya tiba-tiba ia bergegas pergi ia pergi ke gerombolan anak-anak lain yang tidak di kenalnya sambil berkata, ada yang bawa kamus? yaah tadi ada tapi juga lagi di pinjem sahut salah seorang anak di gerombolan tersebut, dan salah seorang dari mereka berkata coba tanya ulfa, dia sepertinya bawa siapa tahu belum di pinjem sambil menunjuk seorang siswi yang sedang asik duduk di dalam kelas.

ehem, boleh pijem kamus ucap rais dengan pelan ia belum kenal siapa itu yang di hadapannya, kamus kamu ga bawa sahut ulfa, aku ada tapi mau aku pake lanjutnya , tapi kan kamu masih nanti siang ucap rais sambil mengerutkan dahi nya, enggak aku mau baca-baca sekarang, ada tugas solanya lanjutnya lagi. oke makasih sahut rais dengan kecewa, rais tidak mendapatkan apapun , dia berpikir mungkin untuk kali ini tidak akan apa-apa jika lupa bawa pikir nya. sambil melangkah memasuki ruang kelas rais menghampiri guru nya dan  berkata maaf bu ga ada yang bawa, sudah di pinjem semua gumamnya.  miss mulyani menjawab ya sudah besok lagi di bawa kali ini saya maaf kan ucap nya, alhamdulillah makasih bu ucap rais.

Waktu istirahat datang semua teman-temannya bersiap pergi meningggalkan ruangan untuk makan, rais mencoba melangkahkan kaki, ya begitu berat untuk melangkah ia memutuskan untuk duduk lagi sejenak. semua terasa suram saat itu, ia merasa terlalu sering terlambat untuk datang ke sekolah bukan karena selalu terlmbat untuk bangun akan tetapi rais ke sekolah dengan kakak sepupu nya   yang selaku berangkat telat, namun ia tidak bisa berbuat banyak.

Walau saat itu ia sadar dan  sangat berterima kasih karena rais selalu merasa terlindungi karena kakak nya sepupunya tersebut, zerika  cukup terkenal dan juga cukup tua untuk ukuran anak smp karena ia drop out dari SMPN 1 gara-gara terliba perkelahian dan banyak hal lain, dia cukup nakal memang tapi dia tidak pernah membiarkan rais meniru perilaku jeleknya, tidak ada yang berani macam-macam terhadap rais, waktu itu masih sering terjadi perkelahian cuma gara-gara hal sepele antara anak-anak smp tersebut.

ketika melewati di gerombolan kakak kelas orang-orang mengenal nya walau dengan panggilan adek zerika adek zerika , tapi mendengar kata itu cukup membuat nya lega,setidaknya ia tidak merasa sendiri. sesampainya di ruang kelas, teman kelasnya begitu berisik, dia agak terlambat lagi waktu itu. salah seorang temannya menghampiri rais, kok guru belom datang ucap nya ,?

rais langsung keluar menuju petugas piket untuk menanyakan tentang guru nya tersebut, tak lama kemudia seorang petugas piket tersebut ayoo kekelas ajak nya, ternyata guru matematika saat itu berhalangan hadir, hari itu cuma disuruh mengerjakan tugas yang harus di kumpul di akhir pelajaran.

Yaal teriak puput salah saeorang teman kelas rais, udah jangan injak meja, aku mau ngerjain ini jangan berisik ucap nya. Akan tetapi iyal tetap melanjutkan aktifitas nya tanpa menghiraukan sedikit pun, iyal ia adalah teman sekelas ku yang bisa di bilang yang cukup nakal dia memiliki banyak teman yg juga seperti dia sering kelayapan. 

Rais, coba kamu suruh berhenti iyaal itu aku ga bisa konsen ucap teman-teman ku yang lain. Nanti ada guru datang lagi kan kantor deket sahut nya,biasanya kels sering di tegur guru gara2 terlalu berisik. Aku coba bicara yal ayolah ngerjain tugas ini jangan ganggu teman lain ucap ku.

eh tiba-tiba saja ia naik darah dan marah  ngomong kemana mana, dia malah ngajak berkelahi, emang kamu siapa jawab nya. Aku cuma terdiam tp akhir nya ia menghentikan kebisingan sambil melihat sinis terhadap ku.

setelah pulang, dia menghampiri ku, dengan sedikit cemas aku beranikan diri untuk menatap matanya, jujur untuk berkelahi aku pasti kalah gumamku dalm hati. Rais hanya diam dan dia berkata jangan sok jagoan yaa disini kamu ga ada hak untuk bikin peraturan emang kamu siapa ucap nya. 

Aku ketua kelas aku punya wewenang untuk menjaga ketertiban kelas ucap rais.  Seperti nya iyal masih sangat kesal terhadap rais. Tiba-tiba kakak ku dan beberapa temannya data ke arah ku sambil berteriak rais ada apa sahut nya ? sepertinya kakak ku sudah tau permasalahan ku, kelihatan raut muka iyal begitu berubah melihat kedatangan kakak ku zarika.

ada ini ucap kakak ku, enggak ada kita cuma ngobrol biasa  sahut ku dan iyal pun berkata aku pulang duluan rais ucap nya sambil tersenyum dan perlahan menjauh dari kami. Ayoo pulang ucap kakak ku, kalo ada masalah bilang ucap nya. Ia sahut ku pelan.

Ke esokan hari nya tiba-tiba iyal mengahampiri ku seraya mengucapkan maaf aku begitu senang mendengar ucapannya, maaf rais soal kemren emang aku yang salah sahut nya , udahlah lupain ucap ku maaf juga kemren membuat mu kesal. Semenjak itu aku jadi sering main bareng dengan nya. Bahkan aku jadi sering berkunjung kerumah nya yang kebetulan tidak begitu jauh dari sekolahan.
























Comments

Popular posts from this blog

Negeri Seribu Goa